i pagi yang cerah. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Menggunakan seragam putih merah dengan dasi merah. Rambutku di ikat satu di belakang. Seperti hari-hari biasa aku menuju ke garasi mobil untuk memasang sepatu. Sambil duduk, aku memasang tali sepatu. Ketika memasukkan kaki kanan ke dalam sepatu, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada ujung sepatuku. Aku mengira benda aneh itu adalah kaos kaki kakakku yang di taruhnya sembarangan. Tapi, setelah aku rasakan lagi, sepertinya bukan kaos kaki. Benda itu kenyal dan dingin seperti jelly. Karena penasaran, aku lepaskan sepatu itu dari kakiku.
Wow! Betapa kagetnya aku, karena tiba-tiba benda aneh itu meloncat keluar dari sepatuku.
“Kkkkaaaa..... katak!” aku menjerit ketakutan. Serasa mau lepas jantungku.
Sesampainya di sekolah, aku teringat terus dengan kejadian tersebut. Sejak saat itu aku merasa jijik dengan katak. Aku menceritakan kejadian itu pada teman-temanku. Mereka spontan menertawaiku habis-habisa. Sungguh, betapa malunya aku.
***
Keesokan harinya, aku kembali ke garasi untuk memasang sepatu sebelum pergi kesekolah. Kali ini, aku memeriksa sepatuku. Apakah ada katak atau tidak. Untung saja tidak. Aku bergegas berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah aku baru sadar kalau aku tidak menenteng ranselku.
Aku sadar, ternyata tasku ketinggalan di garasi tadi. Ya ampun! Sungguh aku malu sekali. Pergi ke sekolah tanpa membawa ransel yang seharusnya tidak ketinggalan. Aku sangat ceroboh. Lalu, aku kembali ke rumah dan mengambil ranselku.
Jika hidup seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demu pengalaman yang menggempur dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di atas rel itu. Relativitasnya seberapa banyak pelajaran yang dapat di ambil dari pengalaman itu. Berusaha untuk tidak akan ceroboh lagi. Sungguh aku sangat kasihan sekali melihat nasib ku ini. Semua masalah datang bertubi-tubi. Ini pengalaman yang aneh.
***
Sore harinya aku dan kakakku pergi ke pantai. Memandangi indahnya pantai sambil menyantap jagung bakar. Aku termangu memandangi pantai itu. Memikirkan kejadian besok yang akan memalukan ku lagi. Aku menengadah ke atas langit. Melihat langit terbelah dua. Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi. Sedangkan di belahan yang lain, semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu.
“Mikirin apa? Hayoo!” tanya kakakku. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Pangeran kodok yang ada di sepatumu kemarin itu ya haha.” Ledeknya.
“Dasar!” ujarlu. Aku mencubitnya dan menggelitikinya habis-habisan. Lalu kami tertawa bersama di tepi pantai. Memandangi jingganya sore hari di tepi pantai.
***
Sepulangnya dari pantai kami menuju ke sebuah mall yang tak jauh dari pantai itu. Di mall tersebut ada sebah biskop. Aku melihat sebuah poster film yang cukup bagus. Aku ingin menontonnya. Sementara tanggal putarnya besok.
“Besok?” pikirku.
“Mana mungkin aku bisa menonton film itu besok. Sekolah sampai sore. Malam nya pun pasti gak di bolehin keluar. Seandainya besok aku bisa ke sekolah juga bisa ke bioskop ini.” Ujar ku.
“Kita bisa berada di satu tempat yang sama pada beberapa kesempatan, tapi kita tak bisa berada di beberapa tempat dalam satu kesempatan yang sama. Itu hukum fisika, dek.” Ujar kak Thia.
Ya, aku menyadarinya. Setelah aku pikir. Aku bisa menontonnya di lain waktu. Namun, memang sungguh menggiurkan bagiku. Melihat poster itu. Seorang anak laki-laki yang sedang memikul puluhan ikan dari perahu menuju stanplat. Anak itu seperti menahan kantuk, lelah, dan dingin dengan meraupi seluruh tubuhnya dengan kehangatan mimpi-mimpi. betapa ia sang pemberani. Para patriot nasib. aku sadar setelah melihat poster itu. Banyak yang kurang beruntung daripada aku. Kini aku bersyukur atas semua yang aku punya.